<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Governance on Tren Investasi Berkelanjutan (ESG)</title><link>https://investasiesg.com/tags/governance/</link><description>Recent content in Governance on Tren Investasi Berkelanjutan (ESG)</description><generator>Hugo</generator><language>id</language><lastBuildDate>Mon, 12 Jan 2026 09:15:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://investasiesg.com/tags/governance/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Etika AI dan Tata Kelola Data: Tantangan Governance Baru bagi Investor ESG</title><link>https://investasiesg.com/posts/tech-governance-esg/</link><pubDate>Mon, 12 Jan 2026 09:15:00 +0700</pubDate><guid>https://investasiesg.com/posts/tech-governance-esg/</guid><description>&lt;p>Memasuki tahun 2026, pilar &lt;strong>Tata Kelola (Governance)&lt;/strong> dalam kerangka kerja ESG tidak lagi terbatas pada struktur dewan direksi atau kebijakan anti-korupsi konvensional. Ledakan integrasi Kecerdasan Buatan (AI) dalam operasional bisnis telah melahirkan dimensi baru: &lt;strong>Digital Governance&lt;/strong>. Bagi investor, cara sebuah perusahaan mengelola data dan algoritma kini menjadi indikator utama untuk menilai risiko jangka panjang dan integritas korporasi.&lt;/p>
&lt;h3 id="akuntabilitas-algoritma-sebagai-standar-governance">Akuntabilitas Algoritma sebagai Standar Governance&lt;/h3>
&lt;p>Masalah utama dalam penggunaan AI adalah fenomena &amp;ldquo;kotak hitam&amp;rdquo; (&lt;em>black box&lt;/em>), di mana keputusan diambil oleh mesin tanpa transparansi proses yang jelas. Dalam konteks tata kelola, perusahaan wajib memiliki mekanisme akuntabilitas algoritma. Hal ini mencakup audit berkala untuk memastikan bahwa AI tidak menghasilkan keputusan yang diskriminatif atau bias terhadap kelompok tertentu, baik dalam proses rekrutmen maupun penilaian kredit nasabah.&lt;/p></description></item></channel></rss>